Alhamdulillah, kita harus
banyak-banyak memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya. Allah masih mengizinkan
kita untuk ikut serta meraup keberkahan yang dikucurkan-Nya di bulan Ramadhan
1436 H. Banyak orang yang mengimpikan kesempatan ini, tapi panggilan Allah sudah
mendahului. Maka, sepantasnya kita meningkatkan kesyukuran.
Bentuk kesyukuran itu bisa kita
perlihatkan dengan sungguh-sungguh menjaga kualitas puasa yang kita lakukan.
Puasa adalah amalan yang pahalanya Allah yang menentukan. Sebab, secara dzhahir kita bisa terlihat sedang berpuasa,
tapi secara bathin puasa itu tidak berefek apa-apa. Kita
memohon kepada Allah agar dijauhkan dari puasa yang seperti itu. Na’udzu billahi min dzalik.
Rasulullah saw pernah bersabda, “Betapa banyak orang yang
berpuasa, tapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu selain lapar dan
haus.” Artinya,
puasanya tidak bernilai apa-apa. Tidak ada pahala, hikmah, dan manfaat yang
didapatkannya selain lapar dan haus yang dirasakannya saja.
Kenapa hal itu bisa terjadi?
Orang yang berpuasa bisa saja sangat berhati-hati dari hal-hal yang bisa
membatalkan puasa, tapi tidak berhati-hati dari hal yang bisa membatalkan
pahala puasanya. Ia tidak makan dan tidak minum, tapi aktivitas-aktivitasnya
masih tidak terkontrol. Lisannya tidak terjaga, meskipun sedang berpuasa tetap
saja ghibah (menggunjing), fitnah (menuduh), dan kadzib (berdusta).
Hal-hal yang demikian itu bisa membatalkan pahala puasa. Maka,
saudara-saudaraku, kita harus benar-benar waspada dan hati-hati menjaga
kualitas puasa kita. Harus selalu kita ingat, Allah selalu mengawasi apa yang
kita lakukan selama berpuasa. Dan, Allah saja yang tahu apakah puasa kita masih
layak diganjar dengan pahala atau tidak.
Mari membiasakan diri untuk
selalu berjaga-jaga. Jangan sampai melanggar larangan dan mengabaikan perintah.
Sebab, inilah yang diharapkan dari ibadah puasa Ramadhan. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman!
Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang
yang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah : 183)
Allah menyeru dengan panggilan
iman. Sekali lagi, Allah menyeru dengan panggilan iman. Lalu, Allah menegaskan
di akhir ayat ini Allah menegaskan tujuan akhir dari ibadah puasa yang telah
diwajibkan ini, yaitu “agar
kamu bertakwa.”
Sifat orang bertakwa adalah wara’ (berhati-hati). Ia selalu memuhasabahi
dirinya sendiri. Setiap hendak melakukan atau mengucapkan sesuatu, ia akan
berpikir apakah yang akan aku lakukan atau katakan ini baik atau tidak. Apakah
itu bernilai dosa?
Kita berdoa, semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang
bisa mempertebal ketakwaan kepada Allah selama bulan Ramadhan ini. Bagi orang
yang beriman, derajat takwa adalah impian tertinggi. Sebab orang yang paling
mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.
Allahummaj’alnaa minal muttaqqin, Ya Allah jadikanlah kami termasuk orang
yang bertakwa. Amiin
source via Dakwatuna.com
Galangkita.com

Posting Komentar Blogger Facebook